7

TEKNIK MENYUSUI

TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR

 

A.      Pegertian Teknik Menyusui Yang Benar

Teknik Menyusui Yang Benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994).

 

B.       Manfaat dari Teknik Menyusui yang Benar

Manfaat dari teknik menyusui yang benar yaitu:

1.      Puting susu tidak lecet

2.      Perlekatan menyusu pada bayi kuat

3.      Bayi menjadi tenang

4.      Tidak terjadi gumoh

 

C.       Dampak Jika Ibu Tidak Menyusui Dengan Benar

Dampak yang sering terjadi pada ibu dan bayi jika ibu tidak menyusui dengan benar yaitu:

1.      Puting susu menjadi lecet

2.      ASI  tidak keluar secara optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI

3.      Bayi enggan menyusu

4.      Bayi menjadi kembung

 

D.      Waktu Untuk Melakukan Pemberian ASI

Dalam pemberian ASI sebaiknya tidak dijadwal. Pemberian ASI harus sesering mungkin sesuai dengan kebutuhan bayi. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya bayi tidak memiliki pola yang teratur dalam menyusu dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1 – 2 minggu kemudian.

E.       Tanda-Tanda Bayi Menyusu Dengan Benar

Tanda-tanda dari bayi yang menyusu dengan benar yaitu:

1.      Bayi tampak tenang

2.      Badan bayi menempel pada perut ibu

3.      Mulut bayi terbuka lebar

4.      Dagu bayi menempel pada payudara ibu

5.      Sebagian areola masuk dalam mulut bayi, areola bawah masuk lebih banyak

6.      Bayi Nampak menghisap kuat dengan irama perlahan

7.      Puting susu tidak terasa nyeri

8.      Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus

9.      Kepala bayi agak menengadah

 

F.        Langkah-Langkah Menyusui yang Benar

Langkah-langkah menyusui yang benar yaitu :

1.      Cuci tangan dengan sabun

2.      Perah sedikit ASI dan oleskan di sekitar puting dan areola

3.      Ibu duduk atau berbaring dengan santai

4.      Bayi didekatkan menghadap ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi jangan hanya leher dan bahu saja, kepala dan tubuh harus lurus.

5.      Badan bayi menenpel di perut ibu

6.      Menyentuhkan bibir bayi ke puting susu ibu dan menunggu mulut bayi terbuka lebar

7.      Jika mulut bayi sudah terbuka, masukkan puting ibu hingga areola ke dalam mulut bayi

8.      Setelah selesai menyusui, masukkan jari kelingking disudut mulut bayi dan keluarkan puting susu ibu.

9.      Keluarkan sedikit ASI dan oleskan pada daerah puting dan areola

10.  Biarkan puting kering dahulu lalu rapikan ibu.

11.  Sendawakan bayi

 

 

G.      Beberapa Posisi yang Umum Dalam Menyusui Bayi

Beberapa posisi yang umum dalam menyusui bayi yaitu:

1.      Posisi berdiri

 

2.      Posisi duduk

 

3.      Posisi berbaring

 

4.      Posisi menyusui bayi di ruang perawatan

 

5.      Posisi menyusui jika ASI penuh

3

PROMOSI KESEHATAN PADA IBU BERSALIN

A. Definisi Promosi Kesehatan
Dilihat secara konsep promosi kesehatan adalah upaya untuk mempengaruhi atau mengajak orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat,agar melaksanakan prilaku hidup sehat. Sedangkan secara operasional pendidikan kesehatan adalah semua kegiatan untuk memberikan dan atau meningkatkan pengetahuan, sikap, san praktek masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri.
Promosi kesehatan pada ibu bersalin untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan hidup sehat bagi ibu yang akan menghadapi persalinan agar terwujud derajad kesehatan yang optimal.Diharapkan dengan penyuluhan dan informasi dari bidan dapat membuat ibu bersalin dapat menjalani persalinannya dengan tenang.
Peristiwa kelahiran bukan hanya merupakan proses murni fisiologis belaka, akan tetapi banyak pula diwarnai dengan komponen-komponen fisiologis. Tetapi ada perbedaan yang dialami oleh ibu yang satu dengan yang lainnya. Pengalaman di masyarakat, ada ibu-ibu yang sangat muda melahirkan bayinya, dan ada juga ibu-ibu yang sangat suka melahirkan bayinya, yang kadang-kadang sampai mengalami keadaan abnormal seperti operasi. Untuk itulah perlu dilakukannya promosi kesehatan pada ibu bersalin yaitu untuk mengantisipasi perasaan cemas pada ibu dalam menghadapi persalinan.

B. Perubahan Fisiologis Pada Ibu Melahirkan
Semakin meningkat umur kehamilan, ibu semakin merasakan pergerakan-pergerakan bayi. Perut ibu semakin besar, pergerakan ibu semakin tidak bebas, ibu merasakan tidak nyaman. Kadang-kadang ibu mengalami gangguan kencing, kaki bengkak. Kondisi-kondisi otot –otot apnggul dan otot–otot jalan lahir mngalami pemekaran.
Keluarnya bayi itu sebagian besar disebabkan oleh kekuatan-kekuatan kontraksi otot, dan sebagian lagi oleh tekanan dari perut. Kontraksi dari otot-otot uterus dan pelontaran bayi keluar amat dipengaaruhi oleh: Sistem saraf simpatis, parasimpatis dan saraf lokal pada otot uterus.

C. Perubahan Psikologis
Pada minggu-minggu terakhir menjelang kelahiran bayinya, ibu banyak di pengaruhi oleh perasaan-perasaan/ emosi-emosi dan ketegangan. Ibu merasa cemas apakah bayinya dapat lahir lancar, sehat atau cacat. Ibu juga amat bahagia menyongsong kelahiran bayinya yang di idam-idamkannya.
Disamping itu ibu merasakan takut terhadap darah, takut sakit, takut terjadi gangguan waktu melahirkan, bahkan takut mati. Kecemasan ayah juga tidak boleh diabaikan. Kecemasan ayah hampir sama besarnya dengan kecemasan ibu yang melahirkan, hanya berbeda sang ayah tidak secara langsung merasakan efeknya dari kehamilan.

D. Tanda-Tanda Permulaan Persalinan
Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki ”bulannya”atau ”minggunya” atau ”harinya” yang di sebut kala pendahuluan (prepatory stage of labord). Ini memberikan tanda-tanda sebagai berikut :
Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida. Pada multipara tidak begitu terlihat.
Perut kelihatan lebih melebar,fundus uteri turun.
Perasaan sering-sering atau susah kencing (polakisuria) karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus kadang-kadang di sebut ”false labor pains”.
Serviks menjadi lembek,mulai mendatar dan setresinya bertambah bisa bercampur darah (bloody show).

E. Tanda-Tanda In-Partu
Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat sering dan teratur.Keluarnya lendir bercampur darah yang labih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks.Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.Pada pemeriksaan dalam : serviks mendatar dan pembukaan telah ada.Seperti telah di kemukakan terdahulu,faktor-faktor yang berperan dalam persalinan adalah :
Kekuatan mendorong janin keluar (power) :
Ø His (kontraksi uterus)
Ø Kontraksi otot-otot dinding perut
Ø Kontraksi diafragma
Ø Faktor janin
Ø Faktor jalan lahir

F. Persiapan Persalinan

Beritahu ibu mengenai persiapan persalinan meliputi : biaya persalinan,rencana tempat bersalin (di bidan atau rumah sakit),siapa yang akan menolong (bidan,dokter spesialis kandungan),sarana transportasi. dipersiapkan juga satu buah tas yang berisi perlengkapan bayi seperti : popok,baju bayi,minyak telon,kayu putih,talk,selimut,selendang,dan perlengkapan untuk ibu seperti :baju ganti,pakaian dalam,pembalut,kain panjang,dll.

G. Pelaksanan Komunikasi Pada Ibu Melahirkan
Melihat berbagai bentuk kecemasan yang muncul pada ibu yang akan melahirkan dan juga pada suami yang menunggunya maka orientassi pelayanan bukan hanya ditujukan pada sang ibu juga sekaligus iatan-kegiatan kepada sang suami. Ibu di tuntun untuk melakukan kegiatan yang menunjang proses pelontaran/ kelahiran bayi. dalam kelahiran normal ada dua faktor yang harus dipertimbangkan yaitu: Status resiko kehamilan dan kemajuan persalinan dan pelahiran.

H. Tujuan Perawatan Dalam Kelahiran Normal, Tugas Pemberi Perawatan
Tujuan perawatan adalah mendapatkan ibu dan anak yang sehat dengan tingkat intervensi sedikit mungkin yang memperhatikan keselamatan. Pendekatan ini menyiratkan bahwa dalam kelahiran normal, harus ada alasan yang sahih jika akan mencampuri proses alami. Ada empat tugas pemberi perawata yaitu:
1. Mendukung wanita, pasangannya, dan keluarga selama persalinan, saat ia melahirkan dan pada periode selanjutnya.
2. Mengobservasi wanita yang bersalin, memantau kondisi janin dan kondisi bayi setelah lahir, mengkaji faktor resiko, mendeteksi masalah sedini mungkin.
3. Melakukan intervensi minor jika diperlukan, seperti amniotomi, dan episiotomi, perawatan bayi baru lahir.
4. Merujuk ke tingkat perawatan yang lebih tinggi jika faktor resiko menjadi jelas atau terjadi komplikasi yang memperkuat perujukan.

I. Promosi kesehatan pada ibu melahirkan meliputi beberapa aspek yaitu:
1. Mengkaji Kesejahteraan Wanita Selama Persalinan
Ketika awitan persalinan spontan, biasanya wanita tersebutlah yang memulai perawatan, baik dengan meminta penolong kelahiran datang atau dengan melakukan atau dengan melakukan persiapan ke fasilitas kesehatan. Tanggung jawab penolong persalinan untuk mengkaji perawatan yang paling tepat pada awal persalinan telah dibicarakan dan pentingnya pemberian dukungan sepanjang persalinan. Di manapun kelahiran terjadi, terbinanya hubungan yang baik antara wanita dan pemberi perawatan sangat penting baik mereka pernah atau belum bertemu sebelumnya. Kualitas penerimaan yang di tawarkan kepada wanita yang mencari perawatan institusi akan sangat menentukan tingkat kepercayaan yang di berikan oleh wanita tersebut dan keluarganya kepada pemberi perawatan.
Selama perasalinan dan melahirkan, kesejahteraan fisik dan emosional wanita harus di kaji secara teratur, meliputi pengukuran suhu, nadi, dan tekanan darah, memeriksa asupan cairan dan haluaran urine, mengkaji nyeri dan kebutuhan akan dukungan. Pemantauan ini harus di pertahankan sampai proses kelahiran berakhir.
Pengkajian kesejahteraan wanita juga di lakukan dengan memperhatikan privasi selama persalinan, menghormati orang yang di pilih untuk menyertainya, dan menghindari kehadiran orang yang tidak perlu dalam ruang bersalin.

2. Prosedur Rutin
Persiapan kelahiran saat masuk rumah sakit atau pusat kesehatan sering kali meliputi beberapa prosedur “ rutin “. Seperti mengukur suhu, nadi dan tekanan darah, enema dan di ikuti dengan mencukur semua atau sebagian rambut pubis. Prosedur rutin ini tidak boleh di hilangkan meskipun hal tersebut harus di perkenalkan dan di jelaskan kepada wanita dan pasangannya karena untuk mencegah aatau mendeteksi secara dini komplikasi yang kemungkinan dapat terjadi.

3. Nutrisi
Nutrisi adalah subjek yang sangat penting dan pada saat yang sama sangat bervariasi. Pendekatan yang tepat tampaknya tidak menghambat keinginan wanita untuk makan dan minum selama persalinan dan melahirkan., karena dalam kelahiran normal harus ada alasan yang shahih jika ingin mencampuri proses alami. Namun sangat ketakutan yang sangat sulit lenyap dan rutinitas di seluruh dunia, yang masing-masing membutuhkan penanganan dengan cara berbeda. Dengan dilakukan promosi kesehatan tentang niutrisi pada ibu bersalin inilah di harapkan akan mampu mengurangi rutinitas pemenuhan nutrisi dengan ketakutan makan makanan tertentu.

4. Tempat Melahirkan
Praktik persalinan dirumah dibantu yang benar memerlukan beberapa persiapan yang esensial. Penolong persalinan harus memastikan bahwa tersedia air bersih dan ruangan untuk tempat melahirkan yang hangat. Mencuci tangan harus di lakukan dengan cermat. Pakaian atau handuk hangat harus di siapkan untuk membungkus bayi agar tetap hangat. Jadi paling tidak harus ada beberapa bentuk peralatan melahirkan yang bersih sesuai rekomendasi WHO, yang bertujuan menciprkan lapangan persalinan sebersih mungkin dan memberi perawatan tali pusat yang adekuat.

5. Nyeri Persalinan
Hampir semua wanita mengalami nyeri selama persalinan, tetapi respon setiap wanita terhadap nyeri persalinan berbeda-beda. Ada beberapa metode non-invasif sekaligus non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri yang dapat di gunakan selama persalinan. Banyak wanita merasa nyeri berkurang dengan mandi, sentuhan dan pijatan. Ada pula wanita yang memngatasi nyeri dengan cara relaksasi yang di lakukan secara verba, menjauhkan wanita dari nyerinya secara hipnotis, musik dan umpan balik biologis.
Semua budaya mempunyai cara masing-masing untuk membantu dan memimpin persalinan. Beberapa budaya tersebut menjelaskan kebiasaannya dengan cara sihir, yang lain mencoba memberi penjelasan yang lebih masuk akal yentang sistem yang di terapkan. Ciri umum dari metode-metode ini adalah pemberian perhatian yang intens kepada wanita selama persalinan dan melahirkan. Mengkin inilah alasan mengapa begitu banyak wanita hamil merasa metode ini nyaman dan banyak membantu. Laporan yang menyebut bahwa wanita merasa metode tersebut membuat nyaman baru merupakan hasil observasi. Meskipun wanita yang mengalami peredaan nyeri dengan metode-metode tersebut dapat di benarkan. Pelatihan dalam melakukan konseling atau promosi kesehatan dan keterampilan komunikasi interpersonal sangat penting untuk semua yang merawat wanita usia reproduktif (Kwast, 1995).

6. Memantau Janin Selama Persalinan
Memantau kesejahteraan janin adalah bagian bagian perawatan yang penting selama persalinan. Metode pilihan untuk pemantauan janin selama persalinan normal adalah auskultasi intermiten. Perawatan secara individual pada wanita melahirkan sangat esensial dan bisa dilakukan dengan lebih mudah melalui kontak pribadi saat melakukan auskultasi secara teratur. Hanya pada wanita dengan peningkatan resiko mesalnya pada persalinan yang diinduksi atau diaugmentasi, komplikasi oleh cairan amnion yang tercemar oleh mekonium, atau oleh faktor resiko lain. Maka pemantauan elktronik dan dan konseling menjadi bermanfaat.

7. Kebersihan
Di manapun proses persalinan dan melahirkan ditangani, kebersihan adalah kebutuhan yang paling penting dan utama. Sterilisasi yang biasa di gunakan di kamar operasi tidak diperlukan tetapi kuku harus pendek dan bersih serta tangan harus di cuci dengan air sabun secara cermat. Beberapa tindakan harus diambil selama persalinan untuk mencegah kemungkinan infeksi pada wanita dan atau penolong persalinan. Tindakan ini meliputi penghindaran kontak langsung dengan darah dan cairan tubuh lain, penggunaan sarung tangan selama pemeriksaan vagina, selama pelahiran bayi, dan dalam penanganan plasenta. Penting untuk mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi dengan mempertahankan teknik invasif misalnya episiotomi seminimal mungkin dan jika melakukan perawatan tambahan, setelah digunakan instrumen yang tajam di buang

0

EFEK UMUM KEHAMILAN PADA IBU


Total Cairan Tubuh

Meningkat sampai rata- rata 8,5 Liter dan terdiri:

– cairan fetus

– cairan amnion

– jaringan plasenta

– jaringan maternal

– edema

– Hidrasi yang meningkat dari substansi dasar jaringan konektif à edema dan keluarnya cairan dari jaringan konektifà perubahan pada sendi- sendi terutama pada trimester III.

– Edema generalisataà edema kornea, perubahan tekanan intra okular, edema gingival, peningkatan vaskular dari sinus- sinus kranial, edema trakeal.

Kebutuhan Energi

Kebutuhan energi meningkat secara bertahap mulai minggu ke- 10 sampai minggu 36 sebanyak 50-100 kkal/ hari. Pada 4 minggu terakhir kebutuhan meningkat menjadi 300 kkal/hari.

Metabolisme

Modifikasi metabolik dimulai segera setelah konsepsi dan paling nyata terlihat pada pertengahan ke-2 kehamilan saat pertumbuhan fetus.

Uterus dan plasenta membutuhkan karbohidrat, lemak, dan asam amino.

Karbohidrat

Glukosa dapat melalui plasenta secara permeabel, yang memberikan suplai bagi fetus

20 minggu pertama

sensitivitas insulin meningkat pada pertengahan pertama kehamilan.

  • glukosa darah puasa rendah
  • keadaan ini menimbulkan sintesa dan penyimpanan glikogen, penyimpanan lemak dan transport asam amino ke dalam sel- sel.

Setelah 20 minggu

Resistensi insulin bertambah dan kadar insulin plasma meningkat.

  • Suatu beban karbohidrat menghasilkan peningkatan insulin plasma 3- 4 kali lebih besar dari keadaan tidak hamil, tetapi kadar glukosa plasma juga tinggi.
  • Keadaan ini mengurangi penggunaan glukosa maternal dan mendorong terjadinya glikogenolisis, glukoneogenesis, dan penggunaan lemak maternal sebagai sumber energi.
  • Disamping kadar postprandial glukosa plasma yang tinggi dan berkepanjangan, kadar glukosa puasa pada kehamilan lanjut lebih rendah dari yang tidak hamil.

Asam amino

  • Konsentrasi asam amino plasma menurun selama kehamilan akibat hemodilusi.
  • Sintesa urea menurun.

Lipid

  • Semua kadar lemak meningkat dengan peningkatan terbesar pada komponen Trigliserida.
  • Lipid dapat melewati plasenta.
  • Hiperlipidemia pada kehamilan bukan aterogenik tetapi dapat menyamarkan adanya hiperlipidemia patologik.

Lemak ( Fat)

  • Pada permulaan kehamilan lemak akan disimpan.
  • Pada pertengahan kehamilan, lemak merupakan sumber energi maternal yang utama.
  • Pada postpartum kadar lipid kembali kenormal.
  • Mungkin memerlukan waktu 6 bulan.

Kolesterol

  • Terjadi peningkatan perubahan lipoprotein menjadi kolesterol yang mengakibatkan peningkatan suplai untuk jaringan- jaringan dan peningkatan suplai untuk produksi steroid.
  • Kolesterol total meningkat pada postpartum pada semua ibu, tetapi dapat dikurangi dengan pengelolaan diet setelah persalinan.
  • Trigliserida, VLDL, LDL, dan HDL meningkat selama kehamilan.

Obat- obatan / Substansi lainnya

– Kadar fenitoin dalam plasma menurun selama kehamilan.

– Waktu paruh kafein menjadi dua kali lipat.

– Antibiotik dibersihkan lebih cepat oleh ginjal.

Sistem Saraf Sentral

Sinkop dapat terjadi karena banyak sebab:

  1. Venous pooling di ekstremitas inferioràpusing / perasaan melayang terutama pada perubahan posisi.
  2. Dehidrasi.
  3. Hipoglikemi.
  4. Shunting post prandial dari aliran darah ke lambung.
  5. Kelelahan pada exercise.

Gejala- gejala emosional dan psikis merupakan akibat dari:

-perubahan hormonal pada kehamilan.

-progesteronà kelelahan, dispnea, depresi.

-euforia sebagai akibat dari kortikosteroid endogen.

Sistem Respirasi

pCO2 fetus harus lebih besar dari pCO2 ibu. Karenanya pusat pernapasan ibu harus diatur kembali. Hal ini dilakukan dengan beberapa cara antara lain:

– Selama kehamilan, progesteron menurunkan ambang batas CO2 yang akan merangsang pusat napas dan meningkatkan sensitivitas pusat napas. Hal ini akan menyebabkan hiperventilasi pada kehamilan.

– TV meningkat sampai 200 ml.

– VC meningkat sampai 100- 200 ml.

Sistem Kardiovaskular

Cardiac Output

– CO meningkat sebanyak 40% pada minggu ke- 10 akibat peningkatan 10% pada stoke volume dan peningkatan frekuensi sebanyak 10- 15% /menit.

– Pembesaran menyeluruh dari jantung dan pembesaran ventrikel kiri.

– Posisi jantung pada anterolateral akibat peninggian diafragamà perubahan EKG dan mengakibatkan perubahan yang menyerupai iskemi.

Pemeriksaan Fisik

– Pada akhir trimester pertama, kedua komponen dari S1 bertambah keras dengan splitting yang lebih jelas.

– Setelah pertengahan kehamilan, 90% wanita hamil menunjukkan adanya bunyi jantung ke-3 atau gallop S3.

– Murmur ejeksi sistolik di sepanjang batas kiri sternal terdapat pada 96% kehamilan (akibat peningkatan aliran darah yang melalui katup aorta dan pulmo).

– Murmur diastolik tidak pernah normal dan memerlukan evaluasi kardiolog.

Selama Persalinan

– CO meningkat sebanyak 30% pada setiap kontraksi dengan peningkatan stroke volume tetapi tidak terdapat peningkatan pada frekuensi denyut jantung.

Sistem Vena

Dilatasi vena merupakan akibat dari:

– Relaksasi otot polos vaskuler.

– Tekanan dari uterus yang membesar pada vena cava inferior dan vena- vena iliaka.

Sistem Gastrointestinal

Refluks Esofagitis (nyeri lambung / epigrastrium)

  • Pembesaran uterus mendorong lambung ke atas spingter esofagus dan menyebabkan peningkatan tekanan dalam lambung.
  • Progesterone menyebabkan relaksasi relatif dari spingter esofagus.
  • Mungkin juga terdapat refluks cairan empedu ke lambung karena inkompetensi pilorus.
  • Konstipasi dapat terjadi akibat progesterone yang menyebabkan relaksasi otot polos intestinal dan melambatkan persitaltik.

Kandung Empedu

  • Ukurannya membesar.
  • Pengosongan lebih lambat.
  • Kolestasis mungkin disebabkan oleh efek hormonal karena dapat ditemukan juga pada penggunaan kontrasepsi oral dan terapi pengganti hormon.

Hepar

  • Fungsi hepar meningkat.
  • Konsentrasi plasma globulin dan fibrinogen meningkat.
  • Tingkat sintetis albumin meningkat à Total albumin meningkat hingga 19%, dan puncaknya pada minggu ke 28.
  • Kecepatan aliran darah pada vena hepatis akan menurun.
  • Serum alkaline phospatase akan meningkat terutama akibat produksi dari plasenta.

Sistem urogenital

  • Statis urin disebabkan karena penurunan peristatik ureter dan penekanan oleh uterus pada tepi pelvis sesuai dengan kemajuan kehamilan.
  • Bakteriuria asimtomatik terjadi pada 5 hingga 8% wanita hamil.
  • Peningkatan frekuensi berkemih

– Selama 3 bulan pertama kehamilan karena tekanan pada vesika urinaria oleh uterus yang membesar.

– Selama minggu terakhir kehamilan akibat penurunan kepala janin ke rongga pelvis.

  • Nocturia

– Fisiologis setelah trimester pertama.

– Buang air kecil 4 kali setiap malam masih normal.

– Gerakan janin dan insomnia juga dapat menyebabkan nokturia.

  • Stress Incontinence

– Sering terjadi selama kehamilan normal.

– Karena relaksasi dari otot-otot vesika urinaria.

– Normalnya uretra memanjang selama hamil tetapi tidak pada stress incontinence.

Vesika Urinaria

Tonus vesika urinaria menurun, tetapi kapasitas vesika urinaria meningkat secara progresif selama kehamilan.

Ureter

Ureter mengalami dilatasi yang progresif dan kinking > 90% pada wanita hamil di atas ³ 6 minggu.

Ø Disertai penurunan aliran urin.

Ø Dilatasi lebih besar pada sebelah kanan karena dextrorotasi dari uterus dan tidak sampai ke bawah rongga pelvis.

Ø Dilatasi terjadi karena dari obstruksi oleh uterus dan efek dari hormon-hormon kehamilan.

Ø Dilatasi ureter terjadi sampai kaliks à meningkatkan ukuran glomerulus dan meningkatkan cairan interstitial à pembesaran ginjal (panjangnya meningkat hingga 1 cm dan berat naik hingga 20%).

Fungsi renal

– Aliran plasma pada ginjal meningkat dari trimester pertama dan pada minggu ke 20 mencapai 30 hingga 50% diatas normal dan aliran tetap meningkat sampai minggu ke 30 kemudian menurun perlahan ke nilai semula.

– Laju filtrasi glomerulus (GFR) meningkat segera setelah konsepsi. Pada minggu ke 16 mencapai 60% di atas normal dan tetap meningkat sepanjang sisa kehamilan.

Perubahan Tubulus Ginjal

Perubahan fungsi tubulus:

  • · Tubulus kehilangan daya reabsorbsi asam amino, asam urat dan glukosa sehingga tidak dapat diserap dengan sempurna pada wanita hamil.
  • · Peningkatan kehilangan protein sampai 300 mg/24 jam

Retensi Na+ menyebabkan retensi air oleh ginjal. Kandungan Na+ meningkat 500 hingga 900 mmol (karena peningkatan reabsorpsi oleh tubulus ginjal).

Hematologi

Volume Plasma

– Volume plasma meningkat 50% selama kehamilan, karena peningkatan sel darah merah dan plasma, tetapi plasma lebih banyak. Hal ini mengakibatkan terjadinya hemodilusi.

– Lebih meningkat pada multigravida daripada primigravida.

– Lebih meningkat pada kehamilan multipel daripada kehamilan tunggal.

– Berhubungan dengan berat badan lahir.

– Peningkatan volume plasma lebih sedikit pada pasien dengan aborsi berulang.

– Manfaat dari peningkatan sirkulasi volume

  • · Membantu kompensasi peningkatan aliran darah ke uterus dan ginjal.
  • · Mengurangi viscositas darah dan meningkatkan aliran darah kapiler.

Sel Darah Merah

  • Sel darah merah meningkat secara progresif selama kehamilan

– 18% pada wanita tanpa pemberian suplement Fe

– 30% pada wanita dengan pemberian suplement Fe

  • Retikulosit meningkat ³ 2%.
  • Mean Corpusular Volume (MCV) meningkat.

Hemoglobin :

  • Konsentrasi HbF meningkat 1 hingga 2% selama kehamilan.

Laju Endap Darah

  • · Meningkat pada awal kehamilan karena peningkatan fibrinogen dan perubahan fisiologis lainnya.
  • · Laju endap darah = 100 mm/jam biasa pada kehamilan.

Sel darah putih

Neutrofil

v Nilai neutrofil meningkat pada trimester pertama dan terus naik sampai usia kehamilan 30 mg.

v Aktivitas metabolik neutrofil dan fungsi fagositosis meningkat.

Limfosit

v Jumlahnya tidak berubah, tetapi fungsinya berkurang.

Platelet

v Aktifitas platelet meningkat pada trimester kedua dan trimester ketiga dan kembali normal pada 12 minggu postpartum.

v Pada 8 hingga 10% kehamilan normal, platelet turun di bawah 150 x 103 tanpa efek negatif pada fetus.

Sistem Endokrin

Secara umum, sistim endokrin dimodifikasi selama kehamilan akibat pembentukan plasenta. Plasenta menghasilkan Human Chorionic Gonadotropin (hCG) dan Human Placental Lactogen (hPL) disamping hormon-hormon lainnya.

– hCG (luteotropic) : mengatur dan menstimulasi adrenal dan pembentukan steroid oleh plasenta. Merangsang sekresi testosteron oleh testis fetus. Memiliki aktivitas tirotropik.

– hPL disebut juga human Chorionic Somatomammotropin (hCS) : efeknya sebagai antiinsulin dan menyerupai hormon pertumbuhan menyebabkan gangguan pelepasan glukosa dan asam lemak bebas pada ibu.

Kelenjar Pituitari

Sensitivitas dan berat meningkat.

Prolactin

  • Dalam plasma meningkat beberapa hari post konsepsi.
  • Pada yang aterm, kadarnya 10 – 20 x lebih tinggi dari normal.

Follicel Stimulating Hormone

  • Memberi efek umpan balik pada pelepasan hormon goradotropin (GnRH).
  • Menunjukkan penurunan respon yang progresif à tidak ada respon pada 3 minggu setelah ovulasi.

Luteinizing Hormon

  • Respon terhadap GnRH menurun dan akhirnya menghilang.

Kelenjar Adrenal

  • Kortisol plasma dan kortikosteroid lain meningkat progresif sejak kehamilan 12 minggu hingga aterm dan mencapai 3 hingga 5 kali diatas normal.
  • Waktu paruh kortisol plasma meningkat sementara clearence menurun.

Kelenjar Tiroid

Perubahan berikut diduga karena peningkatan estrogen selama kehamilan.

– Ukurannya meningkat selama kehamilan.

– Total tiroksin dan thyroxine binding globulin meningkat sehingga kadar tiroksin bebas tetap normal dan ibu tetap eutiroid.

Kelenjar Paratiroid

– Kadar hormon paratiroid meningkat pada kehamilan yang akan meningkatkan absorpsi kalsium pada ibu, untuk menghambat kehilangan kalsium yang melewati plasenta.

– Pada aterm, kadar hormon paratiroid serum lebih tinggi pada ibu, tapi kalsitonin lebih tinggi pada fetus. Keadaan ini mengakibatkan terbentuknya deposit pada tulang janin.

Protein Plasma

Konsentrasi protein serum ibu menurun, terutama pada kehamilan 20 minggu akibat penurunan albumin serum. Penurunan ini mengurangi tekanan osmotik koloid plasma à edema pada kehamilan.

Pankreas

– Ukuran pulau-pulau langerhans meningkat selama kehamilan.

– Jumlah sel beta meningkat selama kehamilan.

– Jumlah sel reseptor insulin meningkat selama kehamilan.

Insulin

– Kadar insulin serum meningkat selama pertengahan kedua kehamilan namun resistensi insulin juga meningkat.

– Resistensi insulin mungkin disebabkan oleh adanya hPL, plolaktin dan hormon kehamilan lainnya yang memiliki efek anti insulin.

Glucagon

– Kadarnya meningkat ringan pada kehamilan, namun tidak setinggi kadar insulin.

Sistem Integumen / kulit

Perubahan fisiologis pada kulit dapat terjadi selama kehamilan. Beberapa dipercaya akibat perubahan keadaan hormonal kehamilan (lihat tabel 4-2).

Efek MSH(Melanosit Stimulating Hormon).

Peningkatan MSH menyebabkan:

– Linea nigra : Garis hitam / perbedaan warna abdomen dari umblikus hingga pubis, dapat terlihat selama akhir gestasi.

– Hiperpigmentasi Nipple dan areola.

– Kloasma pada wajah / melasma : hiperpigmentasi coklat terang/gelap pada daerah wajah yang terpapar. Lebih sering pada orang terkulit coklat atau hitam, yang tinggal di daerah bermatahari dan yang mengkonsumsi kortikosteroid.

– Warna coklat akibat terbakar sinar matahari lebih lama menghilang daripada biasanya.

Efek Estrogen :

– Spider nevi (tampak cabang-cabang karena dilatasi kapiks pada kulit)

– Eritema palmaris.

Efek kortikosteroid

Striae pada abdomen, dada, dll, sebagai akibat peningkatan kortikosteroid dalam sirkulasi.

Kuku Jari

Tumbuh lebih cepat selama kehamilan.

Rambut

– Rambut rontok berkurang.

– Namun rambut dapat rontok akibat stress emosional pada ibu.

 

 

 

 

 

 

0

ADAPTASI NORMAL PADA KEHAMILAN

ADAPTASI NORMAL PADA KEHAMILAN

Vagina

– Hipertrofi epitel vagina dan jumlah sel glikogen meningkat pada vagina

– Berkurangnya kolagen dan meningkatnya air pada jaringan konektif.

– Vagina menjadi lebih asam (pH = 4 hingga 5) à menyamarkan adanya pertumbuhan dari bakteri patogen dan jamur.

Uterus

  • · Hipertrofi dan hiperplasi otot polos miometrium sebagai akibat dari:

v Hormon steroid

v Distensi uteri dan penipisan dinding uterus akibat dari pertumbuhan fetus, plasenta, cairan, amnion.

  • · Berat uterus pada aterm 1.100 gr dengan peningkatan massa 20 kali lipat (pada wanita tidak hamil berat uterus 70 gr)

Ligamentum rotundum

Ø Panjang komponen otot dan diameternya meningkat

Ø Selama kehamilan ligamentum mungkin berkontraksi secara spontan atau sebagai respon dari gerakan uterus..

Ø Pada persalinan, kontraksi dari ligamen akan menarik uterus ke depan supaya kekuatan dapat diarahkan sebanyak mungkin ke pelvis.

Vaskularisasi uterus

o Selama kehamilanl, arteri uterus merupakan sumber darah yang terpenting.

o Selama kehamilan, arteri ovarium memberikan 20 hingga 30% suplai darah pada 70% wanita.

o Arteri uterus berdilatasi hingga 1.5 kali.

Serviks uteri

– Jumlah kolagen di dalam cervix berkurang hingga sepertiganya.

– Lamanya persalinan spontan berbanding terbalik dengan konsentrasi kolagen serviks pada awal dilatasi.

Akumulasi glycosaminoglycans dan peningkatan kandungan air dan pembuluh darah pada serviks uterus dan menyebabkan perlunakan dan sianosis = karakteristik serviks pada wanita hamil :

– Mengakibatkan peningkatan compliance peregangan.

– Proses ini disebut “cervical ripening” dan berlangsung secara bertahap sampai beberapa minggu terakhir kehamilan.

– Pada awal trimester pertama terdapat hiperaktif epitel skuamosa ektoserviks, hiperplasia kelenjar endoserviks, dan proliferasi epitel endoserviks.

– Sekresi dari kanalis endoserviks akan membentuk mukous plug di serviks yang bersifat anti bakteri.

Isthmus uteri

– Isthmus uteri merupakan daerah kecil diantara korpus uterus dan serviks uterus.

– Dimulai pada 12 minggu kehamilan, isthmus membesar dan menipis akibat pengaruh hormonal pada kehamilan dan adanya distensi uterus.

– Selama persalinan, isthmus memanjang dan dikenal sebagai segmen bawah rahim.

 

15

ANEMIA DALAM KEHAMILAN

2.4.1 Pengertian
2.4.1.1 Anemia adalah kondisi dimana sel darah merah menurun atau menurunnya hemoglobin, sehingga kapasitas daya angkut oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital pada ibu dan janin menjadi berkurang. Selama kehamilan, indikasi anemia adalah jika konsentrasi hemoglobin kurang dari 10,50 sampai dengan 11,00 gr/dl (Varney H, 2006).
2.4.1.2 Anemia pada wanita hamil jika kadar hemoglobin atau darah merahnya kurang dari 10,00 gr%. Penyakit ini disebut anemia berat. Jika hemoglobin < 6,00 gr% disebut anemia gravis. Jumlah hemoglobin wanita hamil adalah 12,00-15,00 gr% dan hematokrit adalah 35,00-45,00% (Mellyna, 2005).
2.4.1.3 Anemia dalam kandungan ialah kondisi ibu dengan kadar Hb < 11,00 gr%. Pada trimester I dan III atau kadar Hb < 10,50 gr% pada trimester II. Karena ada perbedaan dengan kondisi wanita tidak hamil karena hemodilusi terutama terjadi pada trimester II (Sarwono P, 2002).

2.4.2 Etiologi Terjadinya Anemia
Menurut Mochtar (1998), disebutkan bahwa penyebab terjadinya anemia adalah :
2.4.2.1 Kurang Gizi (Mal Nutrisi)
Disebabkan karena kurang nutrisi kemungkinan menderita anemia.
2.4.2.2 Kurang Zat Besi Dalam Diet
Diet berpantang telur, daging, hati atau ikan dapat membuka kemungkinan menderita anemia karena diet.
2.4.2.3 Mal Absorbsi
Penderita gangguan penyerapan zat besi dalam usus dapat menderita anemia. Bisa terjadi karena gangguan pencernaan atau dikonsumsinya substansi penghambat seperti kopi, teh atau serat makanan tertentu tanpa asupan zat besi yang cukup.
2.4.2.4 Kehilangan banyak darah : persalinan yang lalu, dan lain-lain
Semakin sering seorang anemia mengalami kehamilan dan melahirkan akan semakin banyak kehilangan zat besi dan akan menjadi anemia. Jika cadangan zat besi minimal, maka setiap kehamian akan menguras persediaan zat besi tubuh dan akan menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya.
2.4.2.5 Penyakit-Penyakit Kronis
Penyakit-penyakit kronis seperti : TBC Paru, Cacing usus, dan Malaria dapat menyebabkan anemia.

2.4.3 Tanda dan Gejala Anemia
2.4.3.1 Gejala Yang Sering Terjadi
Kelelahan dan kelemahan umum dapat merupakan satu-satunya gejala kapasitas oksigen. Banyak pasien asimtomatik, bahkan dengan anemia derajat sedang.
2.4.3.2 Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit dahulu anemia refrakter, sering infeksi atau kolelitiasis atau riwayat keluarga anemia menggambarkan kemungkinan Hemoglobinopati genetik.
2.4.3.3 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan umum : Takikardi, takipnea, dan tekanan nadi yang melebar merupakan mekanisme kompensasi untuk meningkatkan aliran darah dan pengangkutan oksigen ke organ utama. Ikterus dapat dilihat pada anemia hemolitik. Gambaran fisik lain yang menyertai anemia berat meliputi kardiomegali, bising, hepatomegali dan splenomegali.
2.4.3.4 Tes Laboratorium
Hitung sel darah merah dan asupan darah : untuk tujuan praktis maka anemia selama kehamilan dapat didefinisikan sebagai Hb < 10,00 atau 11,00 gr% dan hemotokrit < 30,00-33,00%. Asupan darah tepi memberikan evaluasi morfologi, eritrosit, hitung jenis leukosit dan perkiraan kekuatan trombosit (Taber, 1994).

2.4.4 Patofisiologi
Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut hidremia atau hipervolemia, akan tetapi bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma, sehingga pengenceran darah. Pertambahan tersebut berbanding plasma 30,00%, sel darah merah 18,00% dan Hemoglobin 19,00%. Tetapi pembentukan sel darah merah yang terlalu lambat sehingga menyebabkan kekurangan sel darah merah atau anemia.
Pengenceran darah dianggap penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita, pertama pengenceran dapat meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa kehamilan, karena sebagai akibat hidremia cardiac output untuk meningkatkan kerja jantung lebih ringan apabila viskositas rendah. Resistensi perifer berkurang, sehingga tekanan darah tidak naik, kedua perdarahan waktu persalinan, banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah ibu tetap kental. Tetapi pengenceran darah yang tidak diikuti pembentukan sel darah merah yang seimbang dapat menyebabkan anemia.
Bertambahnya volume darah dalam kehamilan dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan 32 dan 36 minggu (Setiawan Y, 2006).

Tabel 2.1 Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa Dan Ibu Hamil Menurut WHO
Jenis Kelamin Hb Normal Hb Anemia kurang dari (gr/dl)
Perempuan dewasa : tidak hamil
Perempuan dewasa : hamil
Trimester pertama : 0-12 minggu
Trimester kedua : 13-28 minggu
Trimester ketiga : 29 aterm
Lahir (aterm) 12,00-15,00
12,00-15,00
11,00-14,00
10,50-14,00
11,00-14,00
13,50-18,50 12,00 (Ht 36,00%)
11,00 (Ht 33,00%)
11,00 (Ht 33,00%)
10,50 (Ht 31,00%)
11,00 (Ht 33,00%)
13,50 (Ht 34,00%)
Sumber : Tarwoto, 2008

Klasifikasi Derajat Anemia Menurut WHO yang dikutip dalam buku Handayani W, dan Haribowo A S, (2008) :
1. Ringan sekali Hb 10,00 gr% -13,00 gr%
2. Ringan Hb 8,00 gr% -9,90 gr%
3. Sedang Hb 6,00 gr% -7,90 gr%
4. Berat Hb < 6,00 gr%
2.4.5 Klasifikasi Anemia
Klasifikasi anemia menurut Setiawan Y (2006), anemia dalam kehamilan dapat dibagi menjadi :
2.4.5.1 Anemia Zat Besi (kejadian 62,30%)
Anemia dalam kehamilan yang paling sering ialah anemia akibat kekurangan zat besi. Kekurangan ini disebabkan karena kurang masuknya unsur zat besi dalam makanan, gangguan reabsorbsi, dan penggunaan terlalu banyaknya zat besi.
2.4.5.2 Anemia Megaloblastik (kejadian 29,00%)
Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folat.
2.4.5.3 Anemia Hipoplastik (kejadian 80,00%)
Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah merah. Dimana etiologinya belum diketahui dengan pasti kecuali sepsis, sinar rontgen, racun dan obat-obatan.
2.4.5.4 Anemia Hemolitik (kejadian 0,70%)
Anemia yang disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat, yaitu penyakit malaria.
2.4.5.5 Anemia Lain
Pembagian anemia berdasarkan pemeriksaan hemoglobin menurut Manuaba (2007), adalah :
1. Tidak anemia : Hb 11,00 gr%
2. Anemia ringan : Hb 9,00-10,00 gr%
3. Anemia sedang : Hb 7,00-8,00 gr%
4. Anemia berat : Hb < 7,00 gr%
2.4.6 Komplikasi Anemia Dalam Kehamilan
Komplikasi anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh langsung terhadap janin, sedangkan pengaruh komplikasi pada kehamilan dapat diuraikan, sebagai berikut :
2.4.6.1 Bahaya Pada Trimester I
Pada trimester I, anemia dapat menyebabkan terjadinya missed abortion, kelainan congenital, abortus / keguguran.
2.4.6.2 Bahaya Pada Trimester II
Pada trimester II, anemia dapat menyebabkan terjadinya partus premature, perdarahan ante partum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrapartum sampai kematian, gestosis dan mudah terkena infeksi, dan dekompensasi kordis hingga kematian ibu.
2.4.6.3 Bahaya Saat Persalinan
Pada saat persalinan anemia dapat menyebabkan gangguan his primer, sekunder, janin lahir dengan anemia, persalinan dengan tindakan-tindakan tinggi karena ibu cepat lelah dan gangguan perjalanan persalinan perlu tindakan operatif (Mansjoer dkk, 2008).
2.4.7 Kebutuhan Tablet Besi Pada Kehamilan
Kebutuhan tablet besi pada kehamilan menurut Jordan (2003), dijelaskan bahwa : Pada kehamilan dengan janin tunggal kebutuhan zat besi terdiri dari : 200-600 mg untuk memenuhi peningkatan massa sel darah merah, 200-370 mg untuk janin yang bergantung pada berat lahirnya, 150-200 mg untuk kehilangan eksternal, 30-170 mg untuk tali pusat dan plasenta, 90-310 mg untuk menggantikan darah yang hilang saat melahirkan.
Dengan demikian kebutuhan total zat besi pada kehamilan berkisar antara 440-1050 mg dan 580-1340 mg dimana kebutuhan tersebut akan hilang 200 mg (Walsh V, 2007) melalui ekskresi kulit, usus, urinarius. Untuk mengatasi kehilangan ini, ibu hamil memerlukan rata-rata 30,00-40,00 mg zat besi per hari. Kebutuhan ini akan meningkat secara signifikan pada trimester terakhir, yaitu rata-rata 50,00 mg / hari pada akhir kehamilan menjadi 60,00 mg / hari. Zat besi yang tersedia dalam makanan berkisar 6,00 sampai 9,00 mg / hari, ketersediaan ini bergantung pada cakupan diet. Karena itu, pemenuhan kebutuhan pada kehamilan memerlukan mobilisasi simpanan zat besi dan peningkatan absorbsi.
2.4.8 Penatalaksanaan Anemia Kehamilan
Menurut Setiawan Y (2006), dijelaskan bahwa pencegahan dan terapi anemia pada kehamilan berdasarkan klasifikasi anemia adalah sebagai berikut :
2.4.8.1 Anemia Zat Besi Bagi Wanita Hamil
Saat hamil zat besi dibutuhkan lebih banyak daripada saat tidak hamil. Pada kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta, kebutuhan zat besi pada setiap trimester berbeda. Terutama pada trimester kedua dan ketiga wanita hamil memerlukan zat besi dalam jumlah banyak, oleh karena itu pada trimester kedua dan ketiga harus mendapatkan tambahan zat besi. Oleh karena itu pencegahan anemia terutama di daerah-daerah dengan frekuensi kehamilan yang tinggi sebaiknya wanita hamil diberi sulfas ferrossus atau glukonas ferrosus, cukup 1 tablet sehari, selain itu wanita dinasihatkan pula untuk makan lebih banyak protein dan sayur-sayuran yang banyak mengandung mineral serta vitamin. Terapinya adalah oral (pemberian ferro sulfat 60 mg / hari menaikkan kadar Hb 1,00 gr% dan kombinasi 60 mg besi + 500 mcg asam folat) dan parenteral (pemberian ferrum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena atau 2 x 50 ml gr diberikan secara intramuskular pada gluteus maksimus dapat meningkatkan Hb relatif lebih cepat yaitu 2,00 gr% (dalam waktu 24 jam). Pemberian parentral zat besi mempunyai indikasi kepada ibu hamil yang terkena anemia berat). Sebelum pemberian rencana parenteral harus dilakukan test alergi sebanyak 0,50 cc / IC.
2.4.8.2 Anemia Megaloblastik
Pencegahannya adalah apabila pemberian zat besi tidak berhasil maka ditambah dengan asam folat, adapun terapinya adalah asam folat 15-30 mg / hari, vitamin B12 1,25 mg / hari, sulfas ferrosus 500 mg / hari, pada kasus berat dan pengobatan per oral lambat sehingga dapat diberikan transfusi darah.
2.4.8.3 Anemia Hipoplastik
Anemia hipoplastik ini dianggap komplikasi kehamilan dimana pengobatan adalah tranfusi darah.
2.4.8.4 Anemia Hemolitik
Pengobatan adalah tranfusi darah.
2.4.8.5 Anemia Lain
Dengan pemeriksaan darah dilakukan minimal dua kali selama kehamilan yaitu pada trimester I dan III. Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar ibu hamil mengalami anemia, maka dilakukan pemberian tablet besi sebanyak 90 tablet pada ibu hamil di Puskesmas, artinya ibu hamil setiap hari mengkonsumsi 1 tablet besi.

PUSTAKA

Mansjoer A, dkk, 2008, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Acsulapius
Manuaba IBG, 2001, Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB, Jakarta : EGC
Manuaba IBG, 2003, Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetri dan Ginekologi, Jakarta : EGC
Manuaba IBG, 2004, Konsep Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia, Jakarta : EGC
Manuaba IBG, 2007, Pengantar Kuliah Obstetri, Jakarta : EGC

Varney H, 2006, Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Jakarta : EGC
Walsh Linda V, 2007, Buku Ajar Kebidanan Komunitas, Jakarta : EGC
Wasnidar, 2007, Buku Saku Anemia Pada Ibu Hamil, Konsep dan Penatalaksanaan, Jakarta : Trans Info Media
Wirakusumah S, 1999, Perencanaan Menu Anemia Gizi Besi, Jakarta : Trubus Agriwidya

 

 

 

2

PERSALINAN

Definisi

1.   Inpartu

–     Adalah seorang wanita yang sedang dalam keadaan persalinan

(Sarwono, 2002)

–          Persalinan yang dimulai saat uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada cervix (membuka dan menipis)

(APN, Oktober 2004)

  1. Persalinan

–          Adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, sesuai dengan pengeluaran placenta dan selaput janin dari tubuh ibu

(Sastrawinata, 1983)

–          Adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar hubungan melalui jalan lahir dengan bantuan atau tanpa bantuan (Kekuatan Sendiri).

(Manuaba, 1998)

Kesimpulan

Inpartu adalah seorang wanita yang sedang dalam keadaan persalinan dimana saat uterus berkontraksi akan menyebabkan perubahan pada serviks (mendatardan menipis)

Persalinan adalah serangkaian kejadian pengeluaran hasil konsepsi (Janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan dari tubuhibu melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan atau tanpa bantuan

 

2.1.2    Cara persalinan

a.   Partus biasa (normal) disebut juga partus spontan adalah lahirnya bayi pada letak belakang kepala dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat, serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari24 jam

b.   Partus luar biasa (Ab normal) ialah persalinan pervaginam dengan bantuan alat-alat atau melalui dinding perut dengan operasicaesar

(Mochtar Rustam, 1998)

 

2.1.3    Istilah lain yang ada hubungannya dengan partus

a.   Menurut tua (umur) kehamilan

*    Abortus (keguguran) adalah terhentinya kehamilan sebelum janin dapat hidup (Viable), berat janin dibawah 1000 gram, tua kehamilannya dibawah 28 minggu

*    Partu prematurus adalah pesalinan dari hasil konsepsi pada kehamilan 28-36 minggu, janin dapat hidup tetapi prematur, berat janin antara 1000-2500 gram

*    Partus maturus atau aterm, (cukup bulan) adalah partus pada kehamilan 37-40 minggu / janin matur, berat badan diatas 2500 gram

*    Partus post maturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi 2 minggu atau lebih waktu partus yang ditaksir, janin disebut post matur

*    Partus presipitatus adalah partus yang berlangsung cepat

*    Partus percobaan adalah suatu penilaian kemajuan persalinan untuk memperoleh bukti tentang ada atau tidaknya disroporsi sefatoedvik

b.   Menurut cara persalinan

*    Partus biasa (normal) disebut juga partus spontan, adalah proses lahirnya bayi pada letak bokong kepala dengan tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam

*    Partus luar biasa (abnormal) ialah persalinan pervaginam dengan bantuan alat-alat atau melalui dinding perut dengan operasi caesarea (Synopsis I, hal 91)

*    Persalinan anjuran adalah persalinan tidak dimulai dengan sendirinya tetapi baru berlangsung setelah pemecahan ketuban pemberian pitocin atau prostaglandin

 

2.1.4    Sebab-sebab yang menimbulkan persalinan

Bagaimana terjadinya persalinan belum diketahui dengan pasti, sehingga menimbulkan beberapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya kekuatan his, yaitu :

  1. Teori keregangan

–          Otot-otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu

–          Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat dimulai

  1. Teori penurunan progesteron

–          Proses penuaan plasenta terjadimulai umur hamil 28 minggu, dimana terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu

–          Produksi progesteron mengalami penurunan, sehingga otot rahim lebih sensitiv terhadap oksitosin

–          Akibatnya otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai tingkat penurunan progesteron tertentu

  1. Teori oksitosin internal

–          Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar

–          Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron dapat mengubah sensitivitas otot rahim, sehingga sering terjadi kontraksi braxton hicks

–          Menurunnya konsentrasi progesteron akibat tuanya kehamilan, maka oksitosin dapat meningkatkan aktifitas, sehingga persalinan dapat dimulai

  1. Teori Prostaglandin

–          Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur  hamil 15 minggu yang dikeluarkan oleh desidua

–          Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi dikeluarkan

–          Prostaglandin dianggap dapat merupakan pemicu terjadinya persalinan

  1. Teori hipotalamus – pluiriai dan glandula suprarenalis

–          Teori ini menunjukkan pada kehamilan dengan anenchepalus sering terjadi kelambatan persalinan karena tidak terbentuk hipotalamus (Lingin, 1973)

–          Malpar pada tahun 1933 mengangkat otak kelinci percobaan, hasilnya kehamilan kelinci berlangsung lebih lama

–          Dari percobaan tersebut disimpulkan ada hubungan antara hipotalamus pituarang dengan mulainya persalinan

–          Glandula suprarenal merupakan pemicu  terjadinya persalinan

 

2.1.5    Tanda-tanda permulaan persalinan

Sebelum terjadinya persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki “bulannya” atau “menunggu” atau “harinya” yang disebut kala pendahuluan (preparatory stage of labor). Tanda-tandanya sebagai berikut :

  1. Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atau panggul terutama pada primigravida
  2. Perut kelihatan melebar, fundus uteri turun
  3. Perasaan sering atau susah kencing (pola kisuma) karena kandung kemih terletak oleh bagian terbawah janin
  4. perasaan sakit diperut ke pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus, kadang disebut “fase labors paints”
  5. Servix menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah bisa bercampura darah (bloody show)

(Synopsisi I, Hal 93)

 

2.1.6    Tand-tand Inpartu

1.   Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih sering dan teratur

2.   Keluar lendir bercampur darah (show) lebih banyak karena robekan kecil pada servix

3.   Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya

4.   Pada pemeriksaan dalam servix mendatar dan pembukaan telah ada

 

2.2    Mekanisme Persalinan

2.2.1    Kala Persalinan

Proses persalinan terdiri dari 4 kala, yaitu :

  1. Kala I

Dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan servixs hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm)

  1. Kala II

Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi

  1. Kala III

Dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban

  1. Kala IV

Dimulai dari setelah lahirnya plasenta sampai 1-2 jam pertama post partum

 

2.2.2    Fisiologi Persalinan

1.   Kala Pembukaan (Kala I)

Kala pembukaan dibagi atas dua fase yaitu :

a.   Fase aktif

Pada  fase ini pembukaan berlangsung lambat, mulai 0-3 cm berlangsung 7-8 jam

b.   Fase Aktif

Pada fase ini pembukaan berlangsung cepat, mulai pembukaan 4-10 cm, berlangsung 6 jam yang dibagi 3 sub fase :

–     Periode akselerasi : berlangsung 2 jam, pembukaan 3-4 cm

–     Periode dilatasi maksimal :  berlangsung 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm

–     Periode decelarasi berlangsung 2 jam, pembukaan berlangsung lambat menjadi 10 cm / lengkap

Fase-fase yang dikemukakan diatas dijumpai pada primigravida.

Bedanya dengan multigravida adalah :

–     Servix mendatar (effocement) dulu, baru dilatasi

–     Berlangsung 13-14 jam

Multi :

–     Mendatar dan membukan bisa bersamaa

–     Berlangsung 6-7 jam

 

Perubahan Pada Kala I

a.   Perubahan keadaan segmen atas dan segmen bawah rahim :

Dalam persalinan perbedaan antara segmen atas rahim dan segmen bawah rahim tampak lebih jelas lagi :

  1. Segmen atas memegang berperan aktif karena berkontraksi dan dindingnya bertambah tebal dengan majunya persalinan
  2. Sebaliknya segmen bawah rahim memegang peranan pasif dan makin tipis dengan majunya persalinan karena diregang (Obstetri Fisiologis, hal 227)

b.   Perubahan bentuk rahim

Pada setiap kontraksi sumbu panjang rahim, bertambah panjang sedangkan ukuran melintang maupun ukuran muka belakang berkurang

c.   Perubahan faal ligamentum rotundum

Ligamentum rotundum mengandung otot-ototo polos dan kalau uterus berkontraksi ototo-otot ligamentum rotundum ikut berkontraksi hingga ligamentum rotundum menjadi pendek

d.   Perubahan pendataran dari cervix

Pendataran terutama nampak pada portio yang makin pendek dan akhirnya rata dengan majunya persalinan dan cervix yang pendek (lebih dari setengahnya telah merata) merupakan tanda cervix yang matang.

e.   Pembukaan dari cervix

yang dimaksud dengan pembukaan cervix ialah pembesaran dari ostium externum yang tadinya berupa suatu lubang dengan diamter beberapa milimeter menjadi lubang yang dapat dilalui anak kira-kira 10 cm diamternya.

f.    Perubahan pada vagina dan dasar panggul

Dalam kala I, ketuban ikut meregangkan bagian atas vagina mengalami perubahan bertambah menjadi meregang, sehingga dapat dilalui anak

Setelah ketuban pecah segala perubahan terutama pada dasar panggul ditimbulkan oleh bagian depan anak

Oleh bagian depan yang maju itu, dasar panggul diregang menjadi saluran dengan dinding yang tipis

g.   Perubahan pada anus

Dari luar, peregangan oleh bagian depan nampak pada perineum yang menonjol dan menjadi tipis sedangkan anus menjadi terbuka

2.   Kala Pengeluaran Janin (Kala II)

a.   Turunnya kepala

Turunnya kepala dapat dibagi dalam

  1. Masuknya kepala dalam pintu atas panggul

Pada primigravida sudah terjadi pada bulan terakhir dari kehamilan tetapi pada multigravida biasanya terjadi pada permulaan persalinan

a.   Masuknya kepala dalam pintu atas panggul  biasanya dengan sutura sagitalis melintang dan dengan fleksi yang ringan

b.   Kalau satura sagitalis terdapat ditengah-tengah jalan lahir, ialah tepat diantara symfisis dan promontorium, maka dikatakan kepala dalam synclitismus

c.   Jika sutura sagitalis agak kedepan mendekati symfisis atau agak kebelakang mendekati promontorium, maka kita hadapi asynolitismus

–     Asynclitismus Oisterior

Kalau sutura sagitalis mendekati symfisis dan os parietal belakang lebih rendah dari os perietal depan

–     Asynclistismus Anterior

Kalau sutura sagitalis mendekati promontorium sehingga os parietale depan lebih rendah dari os parietal belakang

  1. Majunya Kepala

Pada primigravida majunya kepala terjadi setelah kepala masuk kedalam rongga panggul dan biasanya baru mulai pada kala II. Pada multigravida sebaliknya majunya kepala dan masuknbya kepala dalam rongga panggul terjadi bersamaan.

b.   Fleksi

Dengan majunya kepala biasanya juga fleksi bertambah hingga ubun-ubun kecil, jelas lebih rendah dari ubun-ubun besar, fleksi ini disebabkan karena anak didorong maju dan sebaliknya mendapat tahanan dari pinggir pintu atas dan sebaliknya mendapat tahanan dari pinggir pintu atas panggul, serviks, dinding panggul atau dasar panggul. Akibat dari kekuatan ini ialah terjadinya fleksi karena moment yang menimbulkan fleksi lebih besar dari moment yang menimbulkan defleksi

  1. Putaran Paksi Dalam

Ialah pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan memutar kedepan kebawah symfisis. Putaran paksi dalam tidak terjadi tersendiri, tetapi selalu bersamaan dengan majunya kepala dan tidak terjadi sebelum kepala sampai ke Hodge III, kadang-kadang baru setelah kepala sampai didasar panggul.

  1. Ekstensi / Fefleksi

Disebabkan karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah kedepan dan atas. Sehingga kepala harus mengadakan ekstensi untuk melaluinya. Setelah sub occiput tertahan pada pinggir atas perineum ubun-ubun besar, dahi, hidung, mulut dan akhirnya dagu dengan gerakan ekstensi.

  1. Putaran Paksi Luar

Setelah kepala lahir, maka kepala anak memutar kembali kearah punggung anak untuk menghilangkan torsi pada leher yang terjadi karena putara paksi dalam

  1. Ekspulsi

Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai dibawah symfisis dan menjadi hipomoclion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian bahu depan menyusul dan selanjutnya seluruh badan anak lahir searah dengan paksi jalan lahir.

 

  1. Kala Pengeluaran Uri (Kala III)

Setelah bayi lahir, kontraksi rahim istirahat sebentar uterus yang teraba keras dengan fundus uteri setinggi pusat, dan berisi placenta yang menjadi tebal 2x sebelumnya. Beberapa saat kemudian timbul his pelepasan dan pengeluaran uri. Dalam waktu 5-10 menit seluruh plasenta terlepas, terdorong kedalam vagina dan akan lahir spontan dan atau dengan sedikit dorongan dari atas symfisis atau fundus uteri.

Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100-200 cc.

(Symfisis I, 1998, 97)

 

  1. Kala IV

Adalah kala pengawasan selama satu jam setelah bayi dan uri lahir untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan post partum.

(Symfisis I, 1998)

lamanya persalinan pada primigravida dan multi garavida

 

Primi                            Mulit

Kala I                       13 jam                                     7 jam

Kala II                      1 jam                           ½ jam

Kala III                    ½ jam                           ¼ jam

14 ½ jam                      7 ¾ jam

 

2.3    Jalannya Persalinan Secara Klinis

2.3.1    Kala I

Persalinan pada kala pertama mempunyai tenggang waktu panjang yang memerlukan kesabaran parturien dan penolong. Mental penderita perlu dipersiapkan agar tidak cepat putus asa dalam situasi menunggu disertai sakit perut karena his yang makin lama makin bertambah kuat.

Tindakan yang perlu dilakukan adalah :

1.   Memperhatikan kesabaran perturien

2.   Melakukan pemeriksaan tekanan darah, nadi temperatur dan pernafasan berkala sekitar 2-3 jam

3.   Pemeriksaan denyut jantung jarum setiap ½ – 1 jam

4.   Memperhatikan keadaan kandung kemih agar selalu kosong

5.   Memperhatikan keadaan patologis

–     Meningkatkan lingkaran bandl

–     Ketuban pecah sebelum waktu atau disertai bagian janin yang menumbung

–     Perabaan denyut jantung janin setiap ½ 1 jam

atau

6.   Pengeluaran mekonium pada letak kepala

7.   Keadaan his yang bersifat patologis

8.   Perubahan posisi atau penurunan bagian terendah janin

9.   Parturien diperkenalkan mengejan

 

Pada akhir kala pertama dapat terjadi ketuban pecah yang dapat disertai keinginan mengejan ditandai anus mulai terbuka.

(Manuaba, 1998 : 175)

 

2.3.2        Kala II

Ada beberapa tanda dan gejala kala II persalinan :

–          Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi

–          Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan atau vaginannya

–          Perineum terlihat menonjol

–          Vulva dan vagina dan spingter ani terlihat membuka

–          Peningkatan pengeluaran lendiri dan darah

–          Pembukaan serviks telah lengkap

–          Terlihat bagian kepala bayi pada introitus vagina

(APN, 2002)

 

untuk mengkooridnasikan semua kegiatan menjadi resultante optimal saat his dan mengejan dapat dilakukan :

  1. Parturient diminta untuk merangkul kedua pahanya, sehingga dapat menambah pembukaan pintu bawah panggul
  2. Badan ibu dilengkungkan, sampai dagu menempel didada sehingga arah kekuatan menuju jalan lahir
  3. His dan mengejan dikerjakan bersamaa, sehingga kekuatannya optimal
  4. Saat mengejan nafas ditarik, sedalam mungkin dipertahankan dengan demikian diafragma abdominal membantu dorongan kearah jalan lahir
  5. Bila leher dan his masih berlangsung, nafas dapat dikeluarkan dan selanjutnya ditarik kembali untuk dipergunakan mengejan
  6. Melakukan observasi

–          Djj setiap his

–          Lingkar bandl

–          Penurunan bagian terendah janin

–          Kemungkinan terjadinya prolapsus bagian janin

(Manuaba, 176)

 

Dipuncak his, bagian kecil dari kepala nampak dalam vulva, tetapi hilang lagi waktu his terhenti. Pada his berikutnya bagian kepala yang nampak lebih besar lagi, tetapi sulit kembali kalau his berhenti.

Kejadian ini disebut kepala membuka pintu

Maju dan surutnya kepala berlangsung terus, sampai lingkaran terbesar dari kepala terpegang vulva, sehingga tidak dapat mundur lagi, pada saat itu tonjolan tulang ubun-ubun telah lahir dan sub ocaput ada dibawah symfisis, kejadian ini disebut kepala keluar pintu.

Setelah lahir ia jatuh kebawah dan kemudian terjadi putaran paksi luar, sehingga kepala melintang sekarang vulva menekan pada leher dan dada tertekan oleh jalan lahir sehingga dari hidung anak, keluar lendir dan cairan.

Pada his berikutnya bahu lahir, bahu belakang dulu kemudian bahu depan, disusul oleh seluruh badan anak dengan fleksi lateral, sesuai dengan paksi jalan lahir.

(Obs. Fisiologi, hal 261-262)

 

2.3.3        Kala III

Setelah lahirnya bayi, otot uterus (miometrium) berkontraksi mengikuti berkurangnya ukuran rongga secara tiba-tiba. Penyusutan ukuran rongga uterus secara tiba-tiba menyebabkan berkurangnya ukuran tempat implantasi plasenta, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah, maka plaseenta akan menekan menebal, kemudian dilepas dari dinding uterus.

 

Tanda-tanda pelepasan placenta :

  1. Perubahan bentuk dan tinggi fundus

Uterus berbentuk bulat penuh (discoid) dan tinggi fundus biasanya turun hingga dibawah pusat. Saat uterus berkontraksi dan plasenta terdorong kebawah, uterus menjadi bulan dan fundus diatas pusat (seringkali mengarah ke sisi kanan).

  1. Tali pusat terlihat keluar memanjang
  2. Semburan darah tiba-tiba

Menandakan bahwa darah yang terkumpul diantara tempat melekatnya plasenta dan permukaan maternal plasenta (darah retroplasenter), keluar melalui tepi plasenta yang terlepas.

 

Manajemen Aktif Kala III

Keuntungan manajemen aktif kala III :

  1. Kala III persalinan lebih singkat
  2. Mengurangi jumlah kehilangan darah
  3. Mengurangi kejadian retensio plasenta

Tiga langka utama manajemen aktif kala III :

  1. Pemberian suntikan oksitosin

*    Letakkan kain bersih diatas perut ibu dan periksa uterus untuk memastikan tidak ada bayi yang lain

*    Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik

Selambat-lambatnya dalam waktu 2 menit setelah bayi lahir, segera suntikan oksitosin 10 unti 1M pada 1/3 bagian paha kanan bagian luar

  1. Melakukan penegangan tali pusat terkendali

*    Satu tangan diletakkan pada corpus uteri tepat diatas symfisis pubis

*    Tangan lain memegang tali pusat dekat vagina dan melakukan tarikan tali pusat yang terus menerus dalam tegangan yang sama sama kontraksi

*    Begitu plasenta terlepas, keluarkan dari jalan lahir dengan menggerakkan tangan / klem pada tali pusat kearah bawah lurus dan keatas

*    Setelah plasenta terlihat divagina, kita tangkap dan perlahan memutar plasenta searah jarum jam untuk mengeluarkan selaput ketuban

3.   Pemijatan fundus uteri

*    Dengan lembut tapi mantap, gerakkan tangan secara memutar pada fundus uteri sehingga uterus berkontraksi

*    Periksa uterus setelah satu hingga dua menit untuk memastikan bahwa uterus berkontraksi dengan baik, jika uterus masih belum berkontraksi, ulangi pemijatan fundus uteri

*    Periksa kontraksi uterus setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan setiap 30 menit  selama 1 jam kedua pasca persalinan

Macam-macam pelepasan placenta

1.   Secara schultzel

Pelepasan dimulai dari bagian tengah dari plasenta, bagian plasenta yang nampak dalam vulva ialah bagian foetal. Perdarahan tidak ada sebelum plasenta lahir.

2.   Secara Duncan

Pelepasan dimulai dari bagian tengah dari plasenta, plasenta lahir dengan pinggirnya terlebih dahulu, yang nampak divulva ialah bagian maternal perdarahan sudah ada sejak sebagian dari plasenta terlepas.

 

Perasat untuk mengetahui lepasnya placenta

  1. Kustner

Dengan meletakkan tangan disertai tekanan pada / diatas symfisis, tali pusat ditegangkan, maka bila tali pusat masuk berarti belum lepas, diam atau maju / bertambah panjang berarti sudah lepas

(Symfisis, 107-108)

 

2.3.4    Kala IV

Terutama observasi ketat, karena bahaya perdarahan primer post partum terjadi pada 2 jam pertama. Jangan meninggalkan parturien seorang diri apabila tempatnya terjauh, sehingga perdarahan segera dapat diketahui.

Observasi yang dilakukan

  1. Kesadaran penderita
  2. Pemerikaan yang dilakukan :

–          Tekanan darah, nadi , pernafasan dan suhu

–          Kontraksi rahim yang keras

–          Perdarahan yang mungkin terjadi pada plasenta rest, luka episiotimi, perlukaan pada servix

–          Kandung kemih dikosongkan karena dapat mengganggu kontraksi rahim

(Manuaba, 184-185)

 

2.4    Faktor-faktor yang berperan dalam persalinan

a.   Power

1.   His (Kontraksi otot rahim)

*    Saat hamil

Sifatnya tidak teratur menyeluruh, tidak nyeri disebut kontraksi baraktonhiks

*    Kala I

Kontraksi bersifat simetris

Fundus dominan

Involunter (tidak dapat diatur oleh penderita)

Intervalnya makin lama makin pendek

Kekuatannya waktu besar diikuti retraksi

Menimbulkan rasa sakit pada pinggang, daerah perut dan menjalar kearah paha

*    Kala II

His sangat kuat, teratur, simetris, terkoordinir dan lama terjadi refleksi mengejan karena kepala a nak menekan servix dimana terdapat fleksus franken hauser

*    Kala III

Setelah istirahat sekitar 8-10 menit rahim kontraksi untuk melepaskan plasenta dari incersinya dilapisan hitabusch

*    Kala IV

Kontraksi yang kuat dan pembentukan thrombus terjadi penghentian pengeluaran darah post partum

Dapat diperkuat dengan memberi obat uterotonika saat menyusui, bayi dapat menambah kontraksi karena pengeluaran oksitosin oleh kelenjar hipofisis posterior

(Manuaba, 162-163)

2.   Tenaga Mengejan

Tenaga mengejan hanya dapat berhasil kalau pembukaan portio sudah lengkap dan palling efektif sewaktu kontraksi rahim

b.   Passager (faktor janin)

Dalam persalinan yang menghambat dari faktor janin adalah kelainan ukuran bentuk kepala, kelainan letak dan kelainan kedudukan anak

c.   Passage (faktor jalan lahir)

Yang berpengaruh adalah rangka panggul, ruang panggul, pintu panggul, sumbu, ukuran dan jenis panggul

d.   Psikis Wanita

Keadaan emosi ibu, suasana batinnya, adanya konflik anak diinginkan atau tidak

e.   Penolong

Dokter atau bidan yang menolong persalinann dengan pengetahuan dan ketrampilan dan seni yang dimiliki

 

2.5    Kebutuhan fisik dan psikologi ibu saat persalinan

Asuhan sayang ibu selama persalinan meliputi :

1)   Dukungan Emosional

Dukungan dan anjurkan suami dan keluarga yang lain untuk mendampingi ibu selamapersalinan dan kelahiran. Anjurkan mereka untuk berperan aktif dalam mendukung dan mengenali langkah-langkah yang dimiliki akan sangat membantu kenyamanan ibu. Menghargai ibu untuk didampingi oleh teman atau saudara yang khusus.  Bekerjasama dengan anggota keluarga untuk :

–          Mengucapkan kata-kata yang membesarkan hati dan pujian kepada ibu

–          Membantu ibu bernafasn pada saat kontraksi

–          Memijat punggung, kaki atau kepala ibu dan tindakan-tindakan bermanfaat lainnya

–          Menyeka muka ibu dengan lembut, menggunakan kain yang dibasahi dengan air hangat atau dingin

–          Menciptakan suasana kekeluargaan dan rasa aman

2)      Mengatur Posisi

Menganjurkan ibu untuk mencoba posisi-posisi yang nyaman selama persalinan dan kelahiran. Ibu boleh berjalan atau berdiri, duduk jongkok dan berbaring miring atau merangkak. Posisi tegak seperti berjalan, berdiri atau jongkok dapat membantu turunnya kepala bayi dan sering kali mempersingkat waktu persalinan, jangan membuat ibu dalam posisi terlentang, karena berat uterus dan isinya akan menekan vena kava inferior. Hal ini menyebabkan hipoksia pada janin dan memperlambat kemajuan persalinan

3)      Pemberian cairan dan nutrisi

Anjurkan ibu untuk mendapat asupan cairan dan nutrisi selama persalinan dan kelahiran bayi. Anjurkan anggota keluarga untuk menawarkan ibu minum sesering mungkin dan makanan ringan selama persalinan

–     Mencegah dehidrasi

–     Memberikan tenaga

Jika dehidrasi dapat memperlambat kontraksi dan atau membuat his me njadi kurang tertur

4)      Kebersihan

Jalan lahir (vulva) yang lembab memudahkan mikroorganisme untuk berkembang biak, sehingga bisa menyebabkan infeksi dan dapat mengakibatkan kematian / kesakitan pada ibu dan bayi ibu hendaknya mandi / dimandikan serta menggunakan pakaian yang bersih pada waktu persalinan

Penolong persalinan harus sering cuci tangan dan menggunakan alat yang telah didesinfeksi atau steril

5)      Buang air bersih

Sebelum melahirkan ibu sedapat mungkin BAB lebih dahulu. Ractum yang pernah memberi rasa tidak nyaman selama persalinan, bagi ibu yang mengalami kesulitan dengan BAB dapat dibatnu dengan klisma. Hindari klisma pada ibu yang berada dalam tahap lanjut persalinan (ketuban sudah pecah, mengalami perdarahan, menderita hipertensi)

6)      Buang air kecil

Ibu bersalin sebaiknya BAK minimal setiap 2 jam atau bukan mungkin lebih sering lagi. Kandung kemih yang penuh akan menghambat turunnya bayi kedasar panggul dan memberikan rasa tidak nyaman bagi ibu.