Oleh: hapsari266 | 14 Desember 2009

MAKALAH ASKEB II KOMPRESI BIMANUAL EKSTERNA

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. LATAR BELAKANG

Perdarahan post partum merupakan penyebab kematian maternal terbanyak. Semua wanita yang sedang hamil 20 minggu memiliki resiko perdarahan post partum dan sekuelenya. Walaupun angka kematian maternal telah turun secara drastis di negara-negara berkembang, perdarahan post partum tetap merupakan penyebab kematian maternal terbanyak dimana-mana.

Kehamilan yang berhubungan dengan kematian maternal secara langsung di Amerika Serikat diperkirakan 7 – 10 wanita tiap 100.000 kelahiran hidup. Data statistik nasional Amerika Serikat menyebutkan sekitar 8% dari kematian ini disebabkan oleh perdarahan post partum. Di negara industri, perdarahan post partum biasanya terdapat pada 3 peringkat teratas penyebab kematian maternal, bersaing dengan embolisme dan hipertensi. Di beberapa negara berkembang angka kematian maternal melebihi 1000 wanita tiap 100.000 kelahiran hidup, dan data WHO menunjukkan bahwa 25% dari kematian maternal disebabkan oleh perdarahan post partum dan diperkirakan 100.000 kematian matenal tiap tahunnya.

Definisi perdarahan post partum saat ini belum dapat ditentukan secara pasti. Perdarahan post partum didefinisikan sebagai kehilangan darah lebih dari 500 mL setelah persalinan vaginal atau lebih dari 1.000 mL setelah persalinan abdominal. Perdarahan dalam jumlah ini dalam waktu kurang dari 24 jam disebut sebagai perdarahan post partum primer, dan apabila perdarahan ini terjadi lebih dari 24 jam disebut sebagai perdarahan post partum sekunder.

Frekuensi perdarahan post partum yang dilaporkan Mochtar, R. dkk. (1965-1969) di R.S. Pirngadi Medan adalah 5,1% dari seluruh persalinan. Dari laporan-laporan baik di negara maju maupun di negara berkembang angka kejadian berkisar antara 5% sampai 15%. Dari angka tersebut, diperoleh sebaran etiologi antara lain: atonia uteri (50 – 60 %), sisa plasenta (23 – 24 %), retensio plasenta (16 – 17 %), laserasi jalan lahir (4 – 5 %), kelainan darah (0,5 – 0,8 %).

Penanganan perdarahan post partum harus dilakukan dalam 2 komponen, yaitu:

1)      resusitasi dan penanganan perdarahan obstetri serta kemungkinan syok hipovolemik

2)      identifikasi dan penanganan penyebab terjadinya perdarahan post partum.

  1. B. MASALAH

Cara melakukan kompresi bimanual eksterna dengan benar dan baik.

  1. C. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Makalah ini dibuat sebagai pedoman atau acuan kami dalam upaya mengetahui  bagai mana cara melakukan KOMPRESI BIMANUAL EKSTERNA (KBE) dengan benar dan baik, serta mengembangkan sumber daya dan kemampuan khususnya bagi penulis dalam memberikan pelayanan kebidanan terhadap ibu bersalin.

2. Tujuan khusus

Mengetahui bagaimana cara melakukan kompresi bimanual eksterna dengan benar dan baik.

D. MANFAAT

1. Bagi Penulis

Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan kami sebagai mahasiswa dapat  meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai penyebab perdarahan pada persalinan serta mengetahui bagaimana cara penangananya dengan benar dan baik.

2. Bagi Institusi/bidan

Diharapkan sebagai bahan pertimbangan untuk perbandingan dalam peningkatan pelayanan asuhan kebidanan.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. KOMPRESI BIMANUAL EKSTERNA

  1. Pengertian Kompresi Bimanual

Ada beberapa macam pengertian dari kompresi bimanual,antara lain sebagai berikut:

  1. Kompresi bimanual adalah suatu tindakan untuk mengontrol dengan segera homorrage postpartum.dinamakan demikian karena secara literature melibatkatkan kompresi uterus diantara dua tangan.(varney,2004)
  2. Menekan rahim diantara kedua tangan dengan maksud merangsang rahim untuk berkontraksi dan mengurangi perdarahan (depkes RI,1996-1997)
  3. Tindakan darurat yang dilakukan untuk menghentikan perdarahan pasca salin.(depkes RI,1997)

Kompresi bimanual dibagi dalam dua cara yaitu :

  1. Kompresi bimanual eksterna
  2. Kompresi bimanual interna

  1. kompresi bimanual eksterna

kompresi bimanual eksterna merupakan tindakan yang efektif untuk mengendalikan perdarahan misalnya akibat atonia uteri. Kompresi bimanual ini diteruskan sampai uterus dipastikan berkontraksi dan perdarahan dapat dihentikan.ini dapat di uji dengan melepaskan sesaat tekanan pada uterus dan kemudian mengevaluasi konsistensi uterus dan jumlah perdarahan. Penolong dapat menganjurkan pada keluarga untuk melakukan kompresi bimanual eksterna sambil penolong melakukan tahapan selanjutnya untuk penatalaksanaan atonia uteri.

Dalam melakukan kompresi bimanual eksterna ini, waktu sangat penting, demikian juga kebersihan. sedapat mungkin ,gantillah sarung tangan atau cucilah tangan sebelum memulai tindakan ini.

  1. Peralatan

-          Sarung tangan steril

-          Cairan infuse

-          Peralatan infuse

-          Jarum infuse

-          Plester

-          Kateter urin

  1. Prosuder kompresi bimanual eksterna

  1. Bila mungkin mintalah bantuan seseorang
  2. Cobalah massage ringan agar uterus berkontraksi
  3. Periksa apakah kandung kencing penuh.jika kandung kencing penuh,mintalah ibu untuk buang air kecil.bila tidak berhasil,pasanglah kateter
  4. Jika perdarahan tidak berhenti, lakukan kompresi bimanual eksterna.

Ada beberapa  cara dalam melakukan kompresi bimanual eksterna yaitu:

  1. Cara I

-          Tangan kiri menggenggam rahimdari luar dan dasar rahim,

-          Tangan kanan menggenggam rahim bagian bawah,

-          Kemudian keduatangan menarik rahim keluar dari rongga panggul, sedangkan tangan kanan memeras bagian bawah rahim.

  1. Cara II

-          Letakansatu tangan pada dinding perut dan usahakan sedapat mungkin bagian belakang uterus,

-          Letakan tangan dan lain dalam keadaan terkepal pada bagian depan kurpus uteri,

-          Kemudian rapatkan kedua tangan untuk menekan pembuluh darah ke dinding uterus dengan jalan menjepit uterus diantara kedua tangan tersebut.

  1. Berikan 10 unit oksitoksin (syntocinon) secara IM atau  melalui infuse jika mungkin, kemudian berikan ergometrin 0,2 mg (methergin) IM, kecuali jika ibu menderita hipertensi berat. Dapat juga diberikan 0,5 mg syntometrin IM jika ibu tidak menderita hipertensi. Jika perdarahan berkurang atau berhenti mintalah ibu menyusui bayi.
  2. Jika hal ini tidak berhasil menghentikan perdarahan dan uterus tetap tidak berkontraksi walaupun telah di rangsang dengan mengusap-usap perut pasanglah infuse.

BAB III

PENUTUP

  1. A. KESIMPULAN

  1. B. SARAN

Bagi petugas kesehatan hendaknya berusaha semaksimal mungkin mencegah perdarahan pada ibu bersalin,  dan mengatasinya segera apabila terjadi perdarahan.

About these ads

Responses

  1. Bagus

  2. sampah kali


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: